JAKARTA, — Universitas Nasional (UNAS) secara resmi mengukuhkan Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, sebagai Profesor Kehormatan (Professor Honoris Causa) dalam Sidang Terbuka Senat Akademik yang diselenggarakan di Auditorium UNAS, Jakarta, Rabu (11/2/2026).
Penganugerahan ini merupakan bentuk pengakuan akademik tertinggi atas dedikasi, integritas, pemikiran strategis, serta kontribusi intelektual beliau dalam pengembangan kebudayaan, pendidikan, dan penguatan ketahanan peradaban bangsa.
Pemberian gelar Profesor Kehormatan tersebut melalui proses akademik yang ketat dan komprehensif. Universitas Nasional melakukan kajian mendalam dengan mempertimbangkan rekam jejak intelektual, kepakaran multidisiplin, integritas personal, serta kontribusi nyata yang telah memperoleh pengakuan di tingkat nasional dan internasional. Penilaian ini menegaskan bahwa penganugerahan gelar kehormatan tidak semata bersifat simbolik, melainkan berlandaskan standar akademik yang terukur dan bertanggung jawab.
Rektor Universitas Nasional, El Amry Bermawi Putera, dalam sambutannya menegaskan bahwa pengukuhan Profesor Kehormatan kepada Menteri Kebudayaan Fadli Zon bukan sekadar seremoni akademik, melainkan bentuk penghormatan tertinggi atas konsistensi intelektual dan pengabdian panjang bagi bangsa dan negara.
“Pengukuhan ini kami maknai sebagai pengakuan akademik atas kerja panjang, ketekunan intelektual, serta konsistensi Dr. Fadli Zon dalam memperjuangkan kebudayaan, sejarah, dan jati diri bangsa. Ini adalah pesan moral bahwa kebudayaan harus ditempatkan sebagai fondasi utama pembangunan peradaban Indonesia,” ujar Rektor El Amry.
Ia menambahkan bahwa kiprah Fadli Zon dalam pelestarian sejarah, penguatan literasi budaya, serta diplomasi kebudayaan di tingkat nasional dan global menunjukkan keselarasan yang kuat dengan nilai-nilai Universitas Nasional yang diwariskan oleh Sutan Takdir Alisjahbana, salah satu pendiri UNAS. Menurutnya, kontribusi tersebut telah melampaui batas sektoral dan administratif, serta menjangkau dimensi akademik, sosial, dan peradaban global.
Dalam Sidang Terbuka tersebut, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyampaikan orasi kebudayaan bertajuk “Reinventing Indonesian Identity: Kebudayaan sebagai Fondasi Peradaban.” Dalam paparannya, ia menekankan pentingnya upaya penguatan kembali identitas Indonesia sebagai fondasi strategis peradaban bangsa di tengah dinamika global yang semakin kompleks.
“Upaya reinventing Indonesian identity merupakan langkah strategis untuk meneguhkan kembali posisi Indonesia sebagai episentrum peradaban dunia. Berbagai temuan dan jejak arkeologis membuktikan bahwa Nusantara telah memainkan peran vital dalam evolusi dan perjalanan panjang peradaban umat manusia,” tegasnya.
Lebih lanjut, Fadli Zon menekankan bahwa Indonesia tidak dapat dipahami semata sebagai negara-bangsa modern, melainkan sebagai peradaban-bangsa (civilizational state) yang berdiri di atas fondasi megadiversity. Keberagaman etnis, bahasa, adat, dan tradisi yang terbentuk melalui proses sejarah panjang justru menjadi kekuatan strategis bangsa dalam memainkan peran penting dalam politik dan diplomasi kebudayaan global.
Ia juga menegaskan bahwa kebudayaan harus ditempatkan sebagai fondasi utama dalam pembangunan nasional. “Budaya bukan hanya kompas moral, tetapi juga jalan tengah ruang solusi yang melampaui dikotomi kekuasaan dan kepentingan. The Power of Culture harus menjadi fondasi dalam pembangunan ekonomi, sosial, dan politik agar berjalan seimbang, berkelanjutan, dan berakar pada jati diri bangsa,” ujarnya.
Universitas Nasional mencatat bahwa penganugerahan Profesor Kehormatan ini didasarkan pada penilaian akademik yang komprehensif terhadap rekam jejak Fadli Zon sebagai politisi-akademisi, intelektual, dan budayawan yang secara konsisten merawat memori kolektif bangsa melalui pemikiran, karya, dan aksi nyata di bidang sejarah dan kebudayaan. Keterhubungan pemikirannya dengan gagasan STA menjadi fondasi penting dalam perjalanan intelektualnya, terutama dalam memandang kebudayaan sebagai energi hidup yang harus menjadi basis strategi pembangunan nasional.
Rekam jejak akademik tersebut tercermin sejak masa mahasiswa, kiprahnya sebagai dosen luar biasa di Universitas Indonesia, serta perannya sebagai dosen tidak tetap di Universitas Nasional sejak 2018. Produktivitas intelektualnya tercatat dalam lebih dari 40 buku serta berbagai karya tulis dan jurnal nasional maupun internasional di bidang politik, kebudayaan, dan ekonomi kerakyatan.
Komitmennya dalam pelestarian sejarah dan kebudayaan diwujudkan melalui pendirian Fadli Zon Library, pengelolaan museum, serta rumah budaya yang telah menyelamatkan ribuan artefak dan naskah kuno, serta meraih puluhan penghargaan nasional dan internasional. Rekam jejak kepemimpinannya di tingkat nasional dan global baik sebagai pimpinan lembaga negara, Menteri Kebudayaan, maupun pembicara di berbagai forum strategis turut menjadi pertimbangan utama dalam penganugerahan ini.
Ketua Umum APTIKNAS dan APKOMINDO sekaligus Sekretaris Jenderal PERATIN serta Wakil Ketua Umum SPRI, Soegiharto Santoso (Hoky), menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat atas penganugerahan Profesor Kehormatan tersebut.
“Saya menyampaikan selamat dan penghargaan setinggi-tingginya kepada Bapak Fadli Zon atas penganugerahan Profesor Kehormatan dari Universitas Nasional. Ini merupakan pengakuan akademik yang pantas dan tepat waktu atas konsistensi intelektual, kepemimpinan strategis, serta kontribusi nyata beliau dalam menempatkan kebudayaan sebagai fondasi peradaban bangsa,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa di tengah era transformasi digital, kecerdasan buatan, dan ekonomi berbasis inovasi, kebudayaan harus menjadi fondasi etik dan arah strategis pembangunan nasional. Sinergi antara kebudayaan, teknologi, dan inovasi dinilai sebagai kunci dalam membangun daya saing Indonesia di tingkat global.
Lebih dari itu, pengukuhan ini menjadi momentum strategis bagi dunia akademik, industri teknologi, dan pemerintah untuk memperkuat kolaborasi dalam pengembangan platform digital kebudayaan, arsip sejarah nasional berbasis teknologi, serta ekosistem konten kreatif yang berakar pada kearifan lokal dan berdaya saing global.
Turut hadir sejumlah tokoh dalam pengukuhan tersebut, antara lain Ketua MPR RI, Ahmad Muzadi; Menteri Koordinator Bidang Panjang Zulkifli Hasan; Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra; Kepala Staf Kepresidenan, Muhammad Qodari; Wakil Menteri Kebudayaan, Giring Ganesha; Kepala BNN, Komjen Pol. Dr. (H.C.) Suyudi Ario Seto, Kepala BRIN, Arif Satria; jajaran Anggota DPR RI; jajaran Kementerian Kebudayaan; jajaran Guru Besar dan sivitas akademika Universitas Nasional; serta para Duta Besar negara sahabat.
Menutup orasinya, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada pimpinan Universitas Nasional dan seluruh sivitas akademika atas kepercayaan dan kehormatan yang diberikan.
“Kebudayaan adalah fondasi peradaban dan pemersatu bangsa. Saya menerima gelar ini bukan sebagai pencapaian pribadi, melainkan sebagai amanah untuk terus bekerja, berkarya, dan mengabdi bagi bangsa dan peradaban,” pungkasnya. (And)
















