MANADO – Gubernur Sulawesi Utara (Sulut) Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus Komaling menegaskan pentingnya menjaga dan menghidupkan warisan budaya sebagai bagian dari identitas daerah.
Pesan tersebut disampaikan Yulius saat memberikan sambutan pada acara Rona Budaya Sulut Pekan Kedua: Budaya Wilayah Minahasa Raya, yang digelar di Museum Negeri Sulawesi Utara, Sabtu (12/9/2026) malam.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian Rona Budaya Sulawesi Utara dalam rangka memperingati HUT ke-62 Provinsi Sulawesi Utara.
Yulius mengatakan, memasuki Pekan Maria Walanda Maramis, masyarakat diajak melihat kembali kekayaan warisan budaya yang hidup dan berkembang di wilayah Minahasa Raya.
Menurutnya, budaya tidak sebatas tari, musik, pakaian adat, kuliner, kerajinan maupun berbagai bentuk kesenian tradisional. Di baliknya terdapat nilai, sejarah, cara hidup, semangat kebersamaan dan kearifan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
“Menjaga budaya bukan hanya menjaga bentuk luarnya, tetapi juga menjaga nilai dan makna yang terkandung di dalamnya,” kata Yulius.
Ia menyebut Minahasa Raya memiliki kekayaan budaya yang menjadi bagian penting dari identitas Sulawesi Utara. Sejumlah kesenian seperti Kolintang, Tari Maengket, Musik Bambu dan Tari Katrili, menurutnya, merupakan warisan yang harus terus dikenalkan dan dikembangkan.
Namun, Yulius mengingatkan agar kekayaan budaya tersebut tidak hanya menjadi sesuatu yang dibanggakan ketika dipentaskan.
“Semua kekayaan tersebut jangan hanya menjadi sesuatu yang kita banggakan ketika dipentaskan, tetapi harus terus hidup dalam kehidupan masyarakat dan dikenal oleh generasi penerus,” ujarnya.
Generasi Muda Jadi Kunci
Yulius menilai Rona Budaya dapat menjadi ruang untuk mempertemukan masyarakat dengan budayanya sendiri. Melalui kegiatan tersebut, masyarakat diharapkan semakin mengenal warisan leluhur, mencintai identitas daerah, serta memahami budaya sebagai kekuatan yang harus dijaga bersama.
Ia secara khusus menyoroti pentingnya keterlibatan generasi muda dalam pelestarian budaya.
“Jangan sampai mereka lebih mengenal budaya dari luar daripada mengenal budaya yang lahir dan tumbuh dari tanah tempat mereka berpijak,” tegasnya.
Menurut Yulius, keberlangsungan budaya tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah. Pemerintah memang memiliki peran dalam memberikan dukungan dan membuka ruang, tetapi keberlangsungan budaya sangat ditentukan oleh masyarakat yang menjaganya.
Keluarga, sekolah, komunitas, sanggar seni, tokoh adat, tokoh masyarakat, seniman, budayawan hingga generasi muda disebut memiliki peran penting dalam proses tersebut.
“Budaya tidak akan hidup hanya karena dipentaskan; budaya akan hidup apabila dipraktikkan, dihargai dan diwariskan,” kata Yulius.
Maria Walanda Maramis Jadi Inspirasi
Dalam sambutannya, Yulius juga menjelaskan makna pemilihan nama Maria Walanda Maramis sebagai tema pekan kedua Rona Budaya Sulut.
Menurutnya, momentum tersebut bukan sekadar untuk mengenang sosok tokoh perempuan asal Minahasa itu, tetapi juga menghidupkan kembali nilai perjuangan dan keteladanan yang dapat menjadi inspirasi bagi generasi masa kini.
Semangat Maria Walanda Maramis, kata Yulius, harus ditempatkan sebagai bagian dari upaya membangun masyarakat yang lebih maju melalui pendidikan, pemberdayaan dan kepedulian terhadap kehidupan sosial.
“Sejarah dan keteladanan para pendahulu tidak berhenti sebagai cerita masa lalu, tetapi menjadi inspirasi untuk membangun masa depan,” ujarnya.
Yulius berharap masyarakat Minahasa Raya dapat mengambil peran penting dalam memastikan kekayaan budaya terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Ia mengajak masyarakat menjadikan Pekan Maria Walanda Maramis sebagai momentum untuk semakin mencintai budaya Minahasa Raya, menjaga nilai-nilainya, mengembangkannya sesuai perkembangan zaman, serta mewariskannya kepada anak cucu.
“Melalui budaya dan semangat kebersamaan, mari kita terus bergerak bersama membangun Sulawesi Utara yang Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan,” pungkasnya.
(*/Red)













