Scroll untuk baca artikel
ManadoPARIWISATAPemerintahanSulut

Festival Literasi Sulut 2026 Ditutup, Yulius Selvanus Dorong Generasi Muda Tak Sekadar Pandai Membaca

1862
×

Festival Literasi Sulut 2026 Ditutup, Yulius Selvanus Dorong Generasi Muda Tak Sekadar Pandai Membaca

Sebarkan artikel ini

MANADO — Festival Literasi Sulawesi Utara (Sulut) 2026 resmi berakhir setelah berlangsung selama tiga hari di Museum Negeri Sulawesi Utara, Minggu (4/10/2026).

Penutupan festival dilakukan Gubernur Sulawesi Utara Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus SE. Namun, berakhirnya rangkaian kegiatan tersebut tidak lantas menjadi penanda berhentinya gerakan literasi di daerah ini.

Mengusung tema “Merawat Kearifan dan Menciptakan Narasi untuk Masa Depan Peradaban”, Festival Literasi Sulut 2026 menjadi ruang pertemuan berbagai elemen masyarakat. Sekitar 3.400 peserta ikut ambil bagian, mulai dari pelajar, mahasiswa, pegiat literasi, budayawan, seniman, komunitas, pelaku UMKM hingga masyarakat umum.

Kehadiran ribuan peserta memperlihatkan bahwa literasi di Sulawesi Utara mulai berkembang menjadi gerakan yang lebih luas. Literasi tidak lagi sebatas aktivitas membaca buku atau menulis, tetapi telah bersentuhan dengan kebudayaan, seni, kreativitas, teknologi, pembentukan karakter dan kehidupan sosial.

Dalam sambutannya, Yulius Selvanus menekankan pentingnya membangun generasi yang mampu memahami perkembangan lingkungan di sekitarnya. Menurut dia, kemampuan literasi harus mendorong seseorang untuk mampu membaca situasi, memahami persoalan, memilah informasi, berpikir kritis hingga menghasilkan gagasan yang bermanfaat.

Dengan demikian, budaya membaca dan menulis harus berjalan beriringan dengan kemampuan berpikir serta keberanian untuk menghasilkan karya.

“Belajar dari kekurangan dan kelemahan untuk menjadi bagian dari kehidupan yang tidak bisa dipisahkan,” ujar Yulius.

Pesan tersebut menjadi salah satu penekanan bahwa literasi seharusnya tidak berhenti di ruang kelas maupun kegiatan seremonial. Kebiasaan membaca, menulis, berdiskusi dan berpikir kritis perlu tumbuh dalam keluarga, sekolah, perguruan tinggi, komunitas maupun ruang publik.

Bagi pemerintah daerah, penguatan budaya literasi juga dinilai strategis untuk menyiapkan sumber daya manusia Sulawesi Utara yang mampu menghadapi perubahan zaman. Pengetahuan perlu dibarengi kreativitas dan karakter agar generasi muda tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga mampu menghasilkan gagasan dan karya.

Literasi dalam Wajah Seni dan Budaya

Festival Literasi Sulut 2026 juga memperlihatkan bahwa gerakan literasi dapat dikemas melalui pendekatan yang lebih kreatif.

Selain kegiatan membaca dan menulis, pengunjung disuguhi pameran seni, booth komunitas, pertunjukan teater, berbagai aktivitas kreatif serta Grand Final Pemilihan Putra-Putri Literasi Sulut 2026.

Pertunjukan teater Isbima, pameran seni dan keterlibatan komunitas menjadi bagian penting dalam rangkaian festival. Melalui berbagai kegiatan tersebut, literasi diperkenalkan tidak hanya sebagai kemampuan memahami teks, tetapi juga kemampuan memahami budaya, sejarah, lingkungan sosial dan kearifan lokal.

Museum Negeri Sulawesi Utara sebagai lokasi pelaksanaan festival turut memberikan warna tersendiri. Tempat yang selama ini menjadi ruang penyimpanan dan pengenalan sejarah serta budaya daerah itu selama tiga hari berkembang menjadi ruang interaksi antara pengetahuan, seni, budaya dan kreativitas generasi muda.

Konsep tersebut memperlihatkan bahwa membaca bukan hanya membaca buku. Memahami sejarah, mengenali identitas budaya, mengapresiasi karya seni dan menciptakan karya baru juga merupakan bagian dari proses literasi.

Tak Berhenti Setelah Festival

Ketua Umum Literasi Sulawesi Utara, Standius Bara Prima M.IKom, menegaskan bahwa Festival Literasi Sulut 2026 harus dipandang sebagai momentum untuk memperkuat gerakan literasi secara berkelanjutan.

Menurutnya, masih terbuka ruang yang luas untuk mengembangkan berbagai jenis literasi di Sulawesi Utara, termasuk literasi budaya, seni, digital, sosial serta kemampuan berpikir kritis.

Karena itu, keterlibatan berbagai pihak menjadi faktor penting. Pemerintah, dunia pendidikan, komunitas, seniman, budayawan dan masyarakat perlu membangun kolaborasi agar gerakan literasi tidak hanya terkonsentrasi pada kegiatan tertentu.

Festival ini, kata Standius, menjadi salah satu wadah yang mempertemukan berbagai unsur tersebut dalam sebuah ekosistem kreatif.

Keterlibatan pelajar, mahasiswa, komunitas, seniman, budayawan hingga masyarakat umum menunjukkan bahwa literasi dapat berkembang melalui kerja bersama lintas sektor.

Penutupan festival turut dihadiri Wakil Gubernur Sulawesi Utara Dr. Johanis Victor Mailangkay SH MH, Ketua DPRD Bolaang Mongondow Samsudin Dama, para budayawan, pegiat literasi, komunitas seni serta sejumlah undangan lainnya.

Dengan berakhirnya Festival Literasi Sulut 2026, pekerjaan berikutnya justru menjadi lebih besar. Semangat yang selama tiga hari dibangun di Museum Negeri Sulawesi Utara diharapkan tidak berhenti ketika panggung festival ditutup.

Dengan partisipasi sekitar 3.400 orang, festival tersebut telah memberikan gambaran bahwa masyarakat memiliki ruang dan minat yang besar terhadap gerakan literasi.

Kini tantangannya adalah membawa semangat itu keluar dari lingkungan festival—masuk ke sekolah, kampus, keluarga, komunitas dan ruang-ruang publik—hingga membaca, menulis, berpikir kritis dan berkarya benar-benar menjadi bagian dari keseharian masyarakat Sulawesi Utara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *