Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
BeritaDAERAHManadoSulut

Lebaran Kedua, Gubernur Sulut Hadiri Tradisi Iwadh di Kampung Arab Manado

256
×

Lebaran Kedua, Gubernur Sulut Hadiri Tradisi Iwadh di Kampung Arab Manado

Sebarkan artikel ini

MANADO — Suasana religius mewarnai perayaan Lebaran hari kedua di Kampung Arab, Kota Manado, Minggu (22/3). Gubernur Sulawesi Utara, Yulius Selvanus, bersama Wakil Gubernur Victor Mailangkay, hadir langsung mengikuti tradisi Iwadh, sebuah ritual keagamaan turun-temurun yang kembali dihidupkan masyarakat setempat.

Tradisi Iwadh telah diwariskan selama puluhan tahun oleh komunitas keturunan Arab di Manado. Lebih dari sekadar seremoni, kegiatan ini menjadi sarana mempererat silaturahmi, saling memaafkan, serta memperkuat nilai kebersamaan di tengah kehidupan modern.

Example 300x600

Sejak pagi, warga tampak memadati lorong-lorong kampung, berjalan dari rumah ke rumah. Di setiap kediaman, imam dan tokoh agama memimpin doa yang dilantunkan dengan iringan rebana hadroh. Suasana hangat terasa saat warga saling bersalaman dan menyuguhkan hidangan khas Lebaran kepada para tamu.

Sebelum kedatangan gubernur dan wakil gubernur, kegiatan tersebut juga dihadiri Wali Kota Manado Andrei Angouw, Sekretaris Provinsi Deny Mangala, serta Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Sulut, Audy Pangemanan.
Kehadiran Gubernur Yulius Selvanus bersama jajaran pemerintah daerah dinilai memberi makna tersendiri bagi masyarakat.

Selain menunjukkan dukungan terhadap pelestarian budaya, kehadiran tersebut juga mencerminkan kedekatan antara pemimpin dan warga.

Rombongan pemerintah terlihat berbaur dengan masyarakat, berjalan bersama, menyapa, dan bersalaman tanpa sekat, menciptakan suasana kebersamaan yang kental.

Plt Kadispora Sulut, Audy Pangemanan, mengatakan bahwa tradisi Iwadh tidak hanya menjadi milik komunitas tertentu, tetapi telah menjadi simbol kerukunan di Kota Manado.

“Tradisi ini menunjukkan bahwa perbedaan bukanlah penghalang, melainkan kekuatan untuk saling menguatkan. Nilai-nilai Islam yang tercermin dalam Iwadh hadir secara terbuka dan menyatu dengan kearifan lokal,” ujarnya. (*)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *