Scroll untuk baca artikel
EKONOMIManadoSulut

Ekonomi Sulut Tetap Tumbuh di Tengah Ketidakpastian Global, Daya Beli Masyarakat dan Kesejahteraan Petani Jadi Prioritas

1543
×

Ekonomi Sulut Tetap Tumbuh di Tengah Ketidakpastian Global, Daya Beli Masyarakat dan Kesejahteraan Petani Jadi Prioritas

Sebarkan artikel ini

MANADO – Perekonomian Sulawesi Utara (Sulut) menunjukkan ketahanan yang kuat di tengah ketidakpastian ekonomi global. Berdasarkan data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pada 2 Juni 2026, berbagai indikator ekonomi daerah masih bergerak positif, ditopang oleh pertumbuhan ekspor, peningkatan sektor pariwisata, inflasi yang terkendali, serta membaiknya kondisi ketenagakerjaan.

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Provinsi Sulawesi Utara, Jemmy Ringkuangan, AP., M.Si., mengatakan bahwa meskipun dunia masih menghadapi tantangan akibat perlambatan ekonomi global, ketegangan geopolitik, fluktuasi harga komoditas, dan persaingan perdagangan internasional, Sulawesi Utara tetap mampu mempertahankan stabilitas ekonominya.

Data BPS menunjukkan, selama periode Januari hingga April 2026 nilai ekspor Sulawesi Utara mencapai USD 411,28 juta atau tumbuh 11,49 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, impor tercatat sebesar USD 55,04 juta, sehingga menghasilkan surplus neraca perdagangan sekitar USD 356 juta.

Menurut Jemmy Ringkuangan, capaian tersebut membuktikan bahwa komoditas unggulan Sulawesi Utara masih mampu bersaing di pasar internasional dan menjadi salah satu penopang utama perekonomian daerah.
Di sektor pariwisata, perkembangan juga terlihat menggembirakan. Jumlah wisatawan yang berkunjung ke Sulawesi Utara pada April 2026 meningkat 21,80 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Aktivitas penerbangan turut mengalami kenaikan sebesar 11,34 persen. Kondisi ini memperkuat posisi Sulawesi Utara sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di kawasan Asia Pasifik yang mampu menciptakan lapangan kerja dan peluang usaha baru bagi masyarakat.

Sementara itu, inflasi Sulawesi Utara pada Mei 2026 mengalami deflasi sebesar 0,61 persen. Kondisi tersebut menunjukkan harga kebutuhan pokok relatif terkendali dan pasokan pangan berada dalam kondisi baik. Meski demikian, pemerintah tetap mencermati perkembangan tersebut karena dapat menjadi indikasi belum optimalnya pertumbuhan konsumsi masyarakat.

Perhatian khusus juga diberikan kepada sektor pertanian. Nilai Tukar Petani (NTP) tercatat mengalami penurunan sebesar 0,61 persen. Hal ini mengindikasikan bahwa peningkatan pendapatan petani belum sepenuhnya mampu mengimbangi kenaikan biaya produksi yang mereka tanggung.

“Penguatan kesejahteraan petani dan nelayan akan terus menjadi prioritas pemerintah daerah karena sektor pertanian masih menjadi sumber penghidupan utama masyarakat perdesaan,” ujar Jemmy Ringkuangan.

Dari sisi ketenagakerjaan, Sulawesi Utara menunjukkan tren yang positif. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Februari 2026 tercatat sebesar 5,75 persen, lebih baik dibandingkan Februari 2025 yang berada pada angka 6,03 persen. Penurunan tersebut menunjukkan semakin banyak masyarakat yang memperoleh kesempatan kerja.

Di bidang pembangunan manusia, Sulawesi Utara mencatat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sebesar 76,32 yang masuk kategori tinggi. Namun, rata-rata lama sekolah yang masih berada pada angka 9,91 tahun serta angka kematian bayi sebesar 15,75 per 1.000 kelahiran hidup menunjukkan perlunya peningkatan kualitas pendidikan dan layanan kesehatan dasar.

Jemmy Ringkuangan menegaskan, Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara di bawah kepemimpinan Gubernur Sulawesi Utara, Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus, S.E., dan Wakil Gubernur Sulawesi Utara, Dr. Johannes Victor Mailangkay, S.H., M.H., terus menjalankan berbagai langkah strategis untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara terus memperkuat koordinasi pengendalian inflasi, mendorong investasi, memperkuat sektor pertanian dan perikanan, mengembangkan pariwisata, mempercepat hilirisasi komoditas unggulan daerah, serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Seluruh langkah ini diarahkan agar pertumbuhan ekonomi yang terjadi dapat dirasakan langsung oleh masyarakat,” katanya.

Ia menambahkan, tantangan ekonomi ke depan tidak hanya berasal dari dalam negeri, tetapi juga dipengaruhi perkembangan global yang sulit diprediksi. Karena itu, Sulawesi Utara harus terus memperkuat fondasi ekonomi daerah melalui peningkatan produktivitas, investasi, inovasi, dan pemberdayaan masyarakat.

“Kita patut bersyukur karena Sulawesi Utara masih mampu menunjukkan kinerja ekonomi yang baik di tengah ketidakpastian global. Namun pekerjaan rumah kita masih banyak, terutama dalam meningkatkan daya beli masyarakat, kesejahteraan petani dan nelayan, serta memperluas kesempatan kerja bagi generasi muda. Untuk itu dibutuhkan kolaborasi seluruh elemen masyarakat,” tegasnya.

Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara mengajak seluruh masyarakat untuk tetap optimistis menghadapi berbagai tantangan ke depan. Fokus pembangunan akan diarahkan pada penguatan daya beli masyarakat, peningkatan kesejahteraan petani dan nelayan, penciptaan lapangan kerja berkualitas, penguatan UMKM, percepatan hilirisasi ekonomi daerah, serta peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan masyarakat.

Dengan semangat “Bekerja Bersama, Bersama Bekerja”, Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara optimistis mampu menghadapi tantangan global dan mewujudkan Sulawesi Utara yang semakin maju, sejahtera, berdaya saing, dan berkelanjutan.

(*/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *