Scroll untuk baca artikel
ManadoMinahasaPemerintahanSulut

Dari Tangan yang Memungut Sampah, Gubernur Yulius Kirim Pesan: Fesbudaton Tak Boleh Mati

1856
×

Dari Tangan yang Memungut Sampah, Gubernur Yulius Kirim Pesan: Fesbudaton Tak Boleh Mati

Sebarkan artikel ini

MINAHASA – Tidak ada podium. Tidak ada pidato panjang. Yang terlihat justru seorang gubernur membungkuk, memungut sampah, menebas ilalang, lalu mengangkat ranting bersama aparatur dan warga di kawasan Festival Budaya Tonsea (Fesbudaton), Kelurahan Paleloan, Kabupaten Minahasa, Jumat (24/7/2026).

Pemandangan itu menjadi kontras dengan kondisi Fesbudaton yang selama beberapa tahun terakhir dinilai kehilangan gaungnya sebagai salah satu kawasan budaya di Sulawesi Utara. Di balik semak yang menjulang dan lingkungan yang kurang terawat, tersimpan aset milik Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara seluas sekitar tiga hektare yang sesungguhnya memiliki potensi besar untuk dikembangkan.

Kedatangan Gubernur Sulawesi Utara, Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus, S.E., awalnya hanya untuk meninjau aset tersebut. Namun ketika melihat Pemerintah Kabupaten Minahasa sedang menggelar kerja bakti yang dipimpin Ketua TP-PKK Kabupaten Minahasa Ny. Martina Dondokambey-Lengkong bersama Sekretaris Daerah Dr. Lynda Watania, M.M., ia memilih tidak sekadar menjadi penonton.

Tanpa banyak instruksi, Yulius mengambil peralatan kebersihan dan ikut bekerja bersama masyarakat. Momen itu bukan sekadar aksi simbolis, melainkan mengirim pesan bahwa kepemimpinan harus hadir di lapangan, terutama ketika aset daerah membutuhkan perhatian serius.

Kondisi Fesbudaton menjadi cerminan bahwa masih ada aset pemerintah yang belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal, kawasan ini memiliki nilai budaya, sejarah, dan bentang alam yang dapat menjadi magnet wisata sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat apabila dikelola secara berkelanjutan.

“Kalau kerja, kerja yang betul. Ini aset kita, ini milik kita, harus kita rawat dengan baik,” tegas Yulius di sela kegiatan.

Pernyataan itu menegaskan bahwa tantangan pemerintah bukan sekadar menjaga aset tetap tercatat dalam administrasi, tetapi memastikan aset tersebut hidup, produktif, dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

Karena itu, Gubernur memastikan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara akan menyiapkan langkah penataan kawasan secara bertahap. Targetnya bukan hanya mempercantik lingkungan, tetapi mengembalikan fungsi Fesbudaton sebagai pusat aktivitas budaya dan destinasi wisata yang mampu menarik kunjungan wisatawan.

Yulius bahkan memasang target yang cukup ambisius. Ia ingin Fesbudaton tumbuh menjadi destinasi wisata unggulan yang mampu bersaing dengan sejumlah ikon wisata Sulawesi Utara seperti Bukit Kasih maupun Sumaru Endo.

Di tengah berbagai agenda pembangunan, aksi memungut sampah mungkin terlihat sederhana. Namun dari kawasan Fesbudaton, pesan yang ingin disampaikan Gubernur cukup jelas: membangun daerah tidak selalu dimulai dengan anggaran besar atau proyek monumental. Perubahan sering kali berawal dari kepedulian, keteladanan, dan keberanian mengambil langkah pertama.

Kini, tantangan berikutnya adalah memastikan semangat kerja bakti itu tidak berhenti sebagai seremoni sesaat. Masyarakat tentu menantikan realisasi penataan Fesbudaton agar kawasan yang pernah menjadi kebanggaan budaya Minahasa itu benar-benar bangkit dan kembali memberi nilai bagi pariwisata serta perekonomian Sulawesi Utara.

(*/Bertje)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *