Scroll untuk baca artikel
ManadoPemerintahanSulut

Di Tengah Riuh Pesta Seni, Gubernur Yulius Titip Pesan: Sulawesi Utara Butuh Generasi Beriman

2392
×

Di Tengah Riuh Pesta Seni, Gubernur Yulius Titip Pesan: Sulawesi Utara Butuh Generasi Beriman

Sebarkan artikel ini

MANADO — Aula Mapalus, Kantor Gubernur Sulawesi Utara, Selasa (28/7/2026), berubah menjadi lautan semangat kaum muda. Ribuan remaja Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) memenuhi setiap sudut ruangan, membawa sukacita, kreativitas, dan optimisme dalam Pesta Seni Remaja (PSR) Sinode GMIM.

Bagi sebagian orang, kegiatan itu mungkin hanya sebuah festival seni gerejawi. Namun, bagi Gubernur Sulawesi Utara Mayjen TNI (Purn.) Yulius Selvanus, S.E., pemandangan ribuan remaja yang berkumpul dalam semangat pelayanan memiliki makna yang jauh lebih besar. Di hadapannya berdiri generasi yang kelak akan menentukan arah masa depan Sulawesi Utara.

Didampingi Ketua Sinode GMIM, Wakil Ketua Sinode Pdt. Richard Mengko, serta jajaran pengurus dan pembina Remaja Sinode GMIM, Yulius mengaku bangga melihat besarnya antusiasme para peserta. Menurutnya, penyelenggaraan PSR di wilayah Manado Selatan dan Manado Tenggara membuktikan bahwa GMIM tidak hanya membangun kehidupan rohani jemaat, tetapi juga menghadirkan dampak sosial dan ekonomi yang nyata bagi daerah.

“Setiap kita bergerak, di situ ekonomi ikut bergerak. Tetapi yang paling penting, setiap aktivitas kita selalu diawali dengan doa. Artinya, pertumbuhan ekonomi berjalan seiring dengan pertumbuhan iman kepada Tuhan,” ujar Yulius di hadapan ribuan peserta.

Bagi mantan perwira tinggi TNI itu, gereja memiliki peran strategis dalam pembangunan. Kontribusi warga GMIM, mulai dari kaum bapak, ibu, pemuda, remaja, sekolah minggu hingga lansia, menurutnya, telah menjadi energi sosial yang ikut menggerakkan kehidupan masyarakat Sulawesi Utara.

Di tengah sambutannya, Yulius tak sekadar memberi motivasi. Ia mengajak para remaja menoleh sejenak ke perjalanan hidupnya. Jauh sebelum mengenakan seragam militer dan memimpin Sulawesi Utara sebagai gubernur, ia adalah seorang anak muda gereja yang aktif melatih paduan suara, bermain musik dalam kelompok band, memainkan kolintang, hingga terlibat dalam berbagai organisasi pelayanan.

Bahkan kini, di tengah kesibukannya sebagai kepala daerah, ia mengaku masih melayani sebagai dirigen paduan suara. Baginya, pelayanan kepada Tuhan bukanlah fase yang ditinggalkan ketika seseorang berhasil, melainkan bagian dari perjalanan hidup yang harus terus dijaga.

Pesan terpenting yang ia titipkan kepada ribuan remaja sore itu bukanlah tentang prestasi atau jabatan, melainkan tentang karakter.

Menurut Yulius, kecerdasan tanpa moral dan iman hanya akan melahirkan keberhasilan yang rapuh. Sebaliknya, ketika kecerdasan dipadukan dengan integritas dan kedekatan kepada Tuhan, seorang anak muda akan memiliki fondasi yang kokoh untuk menghadapi tantangan zaman.

“Tanpa moral dan iman kepada Tuhan, semua itu tidak akan membawa dampak yang baik. Karena itu, utamakan karakter, perkuat iman, dan teruslah berkarya. Dengan begitu, kalian akan menuai harapan dan kesuksesan dalam hidup,” pesannya.

Di penghujung acara, riuh tepuk tangan kembali menggema. Bukan semata karena kemeriahan Pesta Seni Remaja Sinode GMIM, melainkan karena sebuah pesan sederhana yang terus bergema di tengah ribuan generasi muda: masa depan Sulawesi Utara tidak hanya dibangun oleh orang-orang yang cerdas, tetapi oleh mereka yang tetap menjaga iman, moral, dan semangat melayani.

(*/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *