Scroll untuk baca artikel
OPINIPOLITIK

Pasca NasDem, Ke Mana Kompas Politik Victor Mailangkay Berputar?

10
×

Pasca NasDem, Ke Mana Kompas Politik Victor Mailangkay Berputar?

Sebarkan artikel ini

Politik Sulawesi Utara kembali memasuki babak menarik.

Di penghujung September 2026, Johannes Victor Mailangkay memilih menutup satu pintu politik yang selama beberapa tahun menjadi rumahnya. Ia mundur dari Partai NasDem, sekaligus melepaskan posisi sebagai Ketua DPW NasDem Sulawesi Utara.

Yang membuat langkah itu memiliki bobot politik lebih besar adalah cara Victor mengakhiri perjalanan tersebut.

Ia datang langsung ke NasDem Tower, Jakarta, dan menyerahkan surat pengunduran dirinya kepada Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh.

Sebuah gestur yang sederhana, tetapi sarat pesan.

Victor tidak pergi melalui gaduh pernyataan di ruang publik. Ia memilih menyampaikan keputusan secara langsung kepada pimpinan tertinggi partai.

Dalam suratnya, Victor menjelaskan bahwa keputusan tersebut berkaitan dengan persoalan “irama dan cara kerja” dengan Felly Estelita Runtuwene, yang disebutnya sebagai Ketua DPP NasDem sekaligus Kompemwil Sulawesi Utara.

Dengan demikian, satu babak telah selesai.

Tetapi justru setelah pintu NasDem ditutup, pertanyaan politik yang lebih besar muncul:

Ke mana kompas politik Victor Mailangkay akan berputar?

Bukan Sekadar Pergantian Kartu Partai

Membaca langkah Victor hanya sebagai pergantian kartu anggota partai tentu terlalu sederhana.

Victor bukan politisi baru yang sedang mencari panggung.

Ia telah melewati perjalanan politik panjang. Namanya pernah berakar di Golkar, kemudian menjadi salah satu figur penting NasDem Sulut, memimpin struktur partai, duduk di lembaga legislatif, hingga akhirnya menduduki posisi Wakil Gubernur Sulawesi Utara.

Karena itu, ketika politisi dengan pengalaman sepanjang itu memutuskan meninggalkan partainya, publik wajar membaca keputusan tersebut sebagai bagian dari dinamika politik yang lebih besar.

Namun, kehati-hatian tetap diperlukan.

Belum ada pernyataan resmi Victor mengenai partai mana yang akan menjadi tujuan berikutnya.

Maka, semua pembacaan tentang masa depan politiknya harus ditempatkan sebagai analisis, bukan fakta yang sudah final.

Gerindra dan Persimpangan Jalan Kekuasaan

Nama Gerindra menjadi salah satu kemungkinan yang paling menarik untuk diamati.

Bukan tanpa alasan.

Victor saat ini adalah Wakil Gubernur Sulawesi Utara yang mendampingi Yulius Selvanus Komaling. Sementara YSK merupakan Ketua DPD Partai Gerindra Sulawesi Utara.

Konfigurasi tersebut menciptakan sebuah fakta politik yang tidak bisa diabaikan: gubernur dan wakil gubernur berada dalam satu pemerintahan, sementara basis politik keduanya tidak lagi sepenuhnya sama setelah Victor meninggalkan NasDem.

Jika pada akhirnya Victor memilih Gerindra, publik tentu akan membaca langkah tersebut sebagai upaya memperkuat keselarasan politik dalam pemerintahan Sulawesi Utara.

Tetapi ada pertanyaan yang lebih menarik.

Apakah kesamaan kendaraan politik otomatis menjamin keharmonisan pemerintahan?

Belum tentu.

Hubungan kepala daerah dan wakil kepala daerah pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh partai. Ada pembagian kewenangan, komunikasi personal, loyalitas pemerintahan, kepentingan pembangunan, serta kemampuan mengelola perbedaan.

Partai yang sama dapat menjadi jembatan.

Tetapi jembatan tetap membutuhkan orang yang mampu menjaganya.

Karena itu, jika Victor suatu hari benar-benar memilih Gerindra, tantangan politik berikutnya bukan lagi sekadar mendapatkan KTA.

Tantangannya adalah bagaimana menjadikan kesamaan platform politik tersebut sebagai energi bagi pemerintahan, bukan sekadar simbol kesamaan warna partai.

Tetapi Gerindra Bukan Satu-satunya Jalan

Politik tidak pernah hanya memiliki satu pintu.

Ada satu nama lain yang secara historis memiliki hubungan kuat dengan Victor: Golkar.

Di sinilah perjalanan panjang Victor menjadi penting.

Sebelum berada di NasDem, Victor memiliki sejarah panjang di Partai Golkar. Karier politiknya telah bersentuhan dengan partai tersebut sejak era 1980-an.

Dalam politik, sejarah semacam ini tidak mudah dihapus.

Jaringan lama, hubungan personal, pengalaman organisasi, serta basis sosial yang terbentuk selama puluhan tahun dapat menjadi modal politik yang tetap hidup meskipun seseorang telah berpindah partai.

Karena itu, jika suatu saat Victor kembali ke Golkar, langkah tersebut dapat dibaca sebagai bentuk rekonsolidasi dengan rumah politik yang pernah membesarkan namanya.

Tetapi politik hari ini tentu tidak sama dengan politik ketika Victor memulai kariernya.

Generasi berubah.

Konfigurasi kekuasaan berubah.

Peta kepentingan berubah.

Dan karena itu, nostalgia saja tidak cukup menjadi alasan sebuah keputusan politik.

Yang Sesungguhnya Sedang Dipertaruhkan

Ada dimensi yang jauh lebih besar daripada sekadar pertanyaan “Victor masuk partai mana”.

Yang sedang dipertaruhkan adalah konfigurasi politik Sulawesi Utara menuju 2030.

Victor masih berada di pusat pemerintahan sebagai Wakil Gubernur.

Artinya, setiap keputusan politiknya memiliki konsekuensi terhadap hubungan antara pemerintahan provinsi, partai politik, DPRD, jaringan politik kabupaten/kota, hingga komunikasi dengan pemerintah pusat.

Di sinilah posisi Victor menjadi unik.

Ia keluar dari partai, tetapi tidak keluar dari pemerintahan.

Ia kehilangan jabatan struktural di NasDem, tetapi tetap memiliki jabatan publik yang strategis.

Dengan kata lain, kendaraan politiknya berubah, tetapi panggung politiknya tetap sama.

Situasi ini memberi Victor ruang manuver yang cukup besar.

Tetapi sekaligus menuntut kehati-hatian.

Sebab setiap langkah setelah ini akan dibaca bukan hanya sebagai keputusan pribadi, melainkan juga sebagai bagian dari dinamika pemerintahan Sulawesi Utara.

NasDem Juga Menghadapi Ujian

Di sisi lain, keputusan Victor merupakan ujian bagi NasDem Sulawesi Utara.

Kehilangan seorang ketua DPW dan figur senior tentu bukan persoalan administratif semata.

NasDem harus memastikan bahwa perubahan kepemimpinan tidak mengganggu konsolidasi organisasi.

Partai harus menjaga struktur di tingkat provinsi, kabupaten/kota hingga akar rumput tetap solid.

Dan yang tidak kalah penting, NasDem perlu memastikan bahwa persoalan personal atau perbedaan cara kerja tidak berkembang menjadi konflik politik yang lebih luas.

Pada titik ini, pengunduran diri Victor bukan hanya cerita tentang seseorang yang meninggalkan partai.

Ini juga merupakan cerita tentang bagaimana sebuah partai mengelola transisi kepemimpinan.

Politik Sulut Memasuki Fase Baru

Ada satu hal yang menarik dari politik Sulawesi Utara.

Politiknya tidak pernah benar-benar statis.

Tokoh berpindah.

Koalisi berubah.

Partai berganti kendaraan.

Namun jaringan politik dan hubungan personal sering kali tetap bertahan.

Victor adalah salah satu contoh paling menarik dari dinamika tersebut.

Ia pernah berada di Golkar.

Kemudian membangun kekuatan bersama NasDem.

Kini ia berada di pemerintahan bersama YSK.

Maka, perpindahan berikutnya—jika memang terjadi—akan menjadi bagian lain dari perjalanan panjang tersebut.

Yang perlu dicermati bukan hanya ke mana Victor pergi, tetapi apa yang dibawanya ketika pergi.

Apakah jaringan politik?

Apakah basis pendukung?

Apakah pengalaman organisasi?

Atau sekadar pengalaman panjang sebagai politisi senior?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut akan menentukan bobot politik langkah berikutnya.

Jangan Terburu-buru Membaca Arah Angin

Di era media sosial, politik sering kali bergerak lebih cepat daripada fakta.

Begitu seorang politisi mengundurkan diri, spekulasi mengenai partai baru segera bermunculan.

Nama partai disebut.

Pertemuan politik ditafsirkan.

Foto bersama dibaca sebagai sinyal.

Bahasa tubuh dianggap sebagai kode.

Padahal politik membutuhkan satu hal yang sering kali paling sulit dilakukan: menunggu.

Menunggu pernyataan resmi.

Menunggu keputusan organisasi.

Menunggu kartu anggota baru.

Dan yang paling penting, menunggu apakah sebuah spekulasi benar-benar berubah menjadi keputusan politik.

Dalam kasus Victor, sampai ada pengumuman resmi mengenai kendaraan politik berikutnya, publik sebaiknya melihat Gerindra, Golkar maupun opsi lainnya sebagai kemungkinan, bukan kepastian.

Kompas Itu Belum Menunjukkan Utara

Pada akhirnya, pengunduran diri Victor Mailangkay dari NasDem memang menutup satu fase.

Tetapi belum membuka seluruh peta fase berikutnya.

Jika ia masuk Gerindra, akan muncul konfigurasi baru antara posisi pemerintahan dan struktur politik YSK.

Jika ia kembali ke Golkar, sejarah panjangnya bersama partai tersebut akan mendapatkan babak baru.

Jika ia memilih tetap berada di luar partai untuk sementara, maka publik akan menyaksikan bagaimana seorang wakil gubernur menjalankan peran politiknya tanpa kendaraan partai.

Semua kemungkinan itu masih terbuka.

Dan justru karena belum ada keputusan resmi, ruang politik Victor saat ini menjadi menarik untuk diamati.

Victor telah meninggalkan satu rumah politik.

Tetapi ia belum mengumumkan rumah berikutnya.

Di situlah letak teka-tekinya.

Dalam politik, orang sering membaca arah angin dari gerak daun.

Tetapi politisi berpengalaman biasanya tidak bergerak hanya karena angin.

Mereka menunggu momentum.

Membaca peta.

Mengukur risiko.

Lalu mengambil keputusan.

Karena itu, setelah NasDem, pertanyaan terbesarnya bukan sekadar ke mana Victor Mailangkay pergi.

Pertanyaannya adalah: posisi politik seperti apa yang sedang ia siapkan untuk memasuki babak berikutnya?

Jawabannya mungkin tidak lama lagi akan terlihat.

Sebab kompas politik Victor sudah bergerak.

Hanya saja, jarumnya belum berhenti menunjuk satu arah. (Bert)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *