JAKARTA – Cap Tikus, minuman tradisional yang telah melekat dalam kehidupan masyarakat Minahasa, Sulawesi Utara, kembali mendapat ruang untuk diperkenalkan di panggung nasional dan internasional.
Kehadiran Cap Tikus dalam ajang Jakarta Beat Society (JBS) 2026 di M Bloc Space, Jakarta Selatan, mendapat respons positif dari para perwakilan negara yang hadir dalam kegiatan tersebut.
Cap Tikus diperkenalkan bukan semata sebagai minuman beralkohol tradisional, tetapi sebagai bagian dari perjalanan sejarah, kehidupan masyarakat agraris, kearifan lokal, serta identitas budaya Minahasa yang diwariskan secara turun-temurun.
Dalam gelaran JBS 2026, narasi mengenai Cap Tikus hadir melalui penampilan Orkes Makaaruyen, kelompok seni di bawah naungan Forum Seni dan Budaya Ne Tombulu, Tomohon, Sulawesi Utara.
Orkes Makaaruyen membawakan sejumlah lagu yang merepresentasikan kehidupan dan kebudayaan Minahasa. Salah satunya adalah lagu “Cap Tikus”, yang ditempatkan sebagai bagian dari narasi budaya masyarakat agraris Minahasa.
Lagu tersebut tidak sekadar menjadi hiburan, tetapi membawa pesan tentang kehidupan masyarakat di wilayah pegunungan Minahasa, termasuk tradisi, kearifan lokal dan hubungan masyarakat dengan lingkungan tempat mereka hidup.
Penampilan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa budaya tradisional Sulawesi Utara memiliki kemampuan untuk hadir di ruang modern tanpa kehilangan identitasnya.
Cap Tikus sendiri merupakan produk olahan tradisional berbahan dasar nira pohon aren atau seho yang telah lama dikenal masyarakat Sulawesi Utara. Sejumlah kajian mengenai budaya Minahasa mencatat bahwa Cap Tikus memiliki keterkaitan dengan kehidupan sosial, tradisi dan mata pencaharian masyarakat setempat.
Karena itu, bagi masyarakat Minahasa, Cap Tikus tidak hanya berbicara mengenai produk minuman, tetapi juga menyimpan cerita tentang kehidupan para petani, tradisi, kebersamaan dan perjalanan sosial masyarakat dari generasi ke generasi.
Respons positif dari para perwakilan negara yang hadir di JBS menjadi momentum penting untuk memperkenalkan perspektif yang lebih luas mengenai Cap Tikus.
Produk yang selama ini kerap mendapatkan stigma negatif tersebut dapat diperkenalkan dari sisi sejarah dan budayanya, sekaligus membuka ruang dialog mengenai bagaimana kearifan lokal dapat dikembangkan secara bertanggung jawab, sesuai ketentuan hukum dan standar yang berlaku.
Sebelumnya, Cap Tikus juga telah mendapatkan perhatian sebagai salah satu produk kearifan lokal Sulawesi Utara yang memiliki potensi untuk dikembangkan ke pasar yang lebih luas. Sejumlah pemberitaan bahkan mencatat adanya dorongan agar produk tersebut mampu menembus pasar internasional dengan memenuhi persyaratan produksi, legalitas, kualitas dan regulasi negara tujuan.
Di sisi lain, penguatan narasi budaya menjadi penting agar generasi muda tidak hanya mengenal Cap Tikus sebagai sebuah produk, tetapi juga memahami sejarah yang berada di baliknya.
Kehadiran lagu “Cap Tikus” dalam repertoar Orkes Makaaruyen di JBS 2026 menjadi salah satu cara untuk menyampaikan pesan tersebut.
Musik menjadi medium untuk menceritakan kehidupan masyarakat Minahasa secara lebih luas. Bersama lagu “Oh Minahasa”, “Lumaya”, “Mangemo Sako Mangemo”, “Tinggal di Kobong” dan “Maramba”, lagu “Cap Tikus” menjadi bagian dari perjalanan musikal yang membawa identitas Tombulu dan Minahasa ke hadapan publik yang lebih luas.
Keikutsertaan Orkes Makaaruyen di JBS juga memperlihatkan bahwa seni tradisi tidak harus berhenti pada bentuk masa lalu.
Instrumen tradisional seperti ukulele batok kelapa, peti bass atau Yangere, bambu, vokal dan siulan dipadukan menjadi sebuah pertunjukan yang dapat diterima di ruang seni kontemporer.
Dari panggung JBS 2026, pesan yang dibawa bukan sekadar tentang sebuah minuman tradisional.
Lebih jauh, Cap Tikus menjadi pintu masuk untuk mengenalkan sejarah, budaya, identitas dan kehidupan masyarakat Minahasa kepada masyarakat Indonesia maupun dunia.
Bagi Sulawesi Utara, momentum ini sekaligus menjadi kesempatan untuk memperkenalkan kekayaan budaya daerah dengan pendekatan yang lebih positif—bahwa kearifan lokal dapat terus hidup, berkembang dan mendapatkan tempat dalam pergaulan budaya global.
Cap Tikus bukan hanya tentang apa yang diminum, tetapi tentang cerita masyarakat yang mewarisinya. (Bertje)













