KOTAMOBAGU – Gubernur Sulawesi Utara Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus, SE meminta generasi muda Bolaang Mongondow Raya (BMR), khususnya para lulusan perguruan tinggi, tidak menjadikan gelar akademik sebagai akhir dari perjalanan.
Sebaliknya, pendidikan harus menjadi modal untuk berkarya, menciptakan peluang, membangun usaha dan menghadirkan solusi bagi masyarakat.
Pesan itu disampaikan Yulius saat memberikan Kuliah Umum Perguruan Tinggi Bolaang Mongondow Raya (BMR) bertajuk “Peran Generasi Muda BMR dalam Mewujudkan Sulawesi Utara Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan”, di Hotel Sutanraja Kotamobagu, Jumat (4/9/2026).
Di hadapan para akademisi dan wisudawan, Gubernur menegaskan bahwa generasi muda memiliki posisi penting dalam menentukan arah masa depan Sulawesi Utara.
“Jangan hanya menunggu pekerjaan. Berani menciptakan peluang, membangun usaha, berinovasi, dan terus meningkatkan kompetensi,” pesan Yulius kepada para wisudawan.
Menurutnya, perubahan dunia yang berlangsung cepat menuntut generasi muda untuk terus belajar dan mampu beradaptasi. Karena itu, wisuda tidak boleh dipandang sebagai garis akhir pendidikan.
“Wisuda bukan akhir. Dunia berubah cepat, dan untuk itu teruslah belajar, beradaptasi, membangun mental tangguh, dan jangan takut gagal,” ujarnya.
Integritas Jadi Modal Utama
Selain kemampuan akademik dan keterampilan, Yulius menekankan pentingnya integritas.
Ia mengingatkan, ilmu pengetahuan yang tinggi harus diimbangi dengan karakter, etika, disiplin dan kepedulian terhadap sesama.
“Ilmu yang tinggi harus berjalan bersama karakter, etika, disiplin, dan kepedulian terhadap sesama,” tegasnya.
Gubernur juga meminta para lulusan menjadikan keberhasilan mereka sebagai bentuk penghargaan kepada orang tua dan keluarga yang telah memberikan doa, pengorbanan serta dukungan selama proses pendidikan.
Sulut Punya Posisi Strategis
Dalam kuliah umum tersebut, Yulius turut memaparkan potensi dan arah pembangunan Sulawesi Utara.
Dengan jumlah penduduk 2.645.291 jiwa dan luas wilayah 64.965,48 kilometer persegi, Sulut memiliki karakter sebagai provinsi kepulauan yang terdiri dari 382 pulau, termasuk 12 pulau terluar.
Posisi geografis Sulawesi Utara yang berada di bibir Samudera Pasifik dinilai memberikan keuntungan strategis.
Sulut memiliki peluang besar untuk berkembang menjadi pusat perdagangan sekaligus super-hub dan pintu gerbang kawasan Asia Timur dan Pasifik.
Arah tersebut sejalan dengan visi pembangunan jangka panjang Sulawesi Utara 2025–2045, yakni “Sulawesi Utara Sebagai Pintu Gerbang Indonesia Ke Asia dan Pasifik yang Mandiri, Maju dan Berkelanjutan.”
Sementara visi pembangunan 2025–2029 adalah “Menuju Sulut Maju, Sejahtera, dan Berkelanjutan.”
Ekonomi Tumbuh 5,42 Persen
Yulius menyampaikan, berbagai capaian pembangunan Sulawesi Utara tidak terlepas dari sinergitas seluruh komponen pembangunan, termasuk perguruan tinggi.
Hingga Triwulan II Tahun 2026, pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara tercatat positif sebesar 5,42 persen.
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Sulut pada 2025 juga mencapai 76,32, lebih tinggi dibandingkan angka nasional sebesar 75,90.
Dari sisi kemiskinan, Sulut mencatat angka 6,32 persen, lebih rendah dibandingkan angka nasional sebesar 8,47 persen.
Namun, pemerintah masih menghadapi tantangan dalam penciptaan lapangan kerja. Tingkat Pengangguran Terbuka Sulut tercatat 5,85 persen, sementara nasional berada pada angka 4,85 persen.
Untuk ketimpangan pendapatan, Gini Ratio Sulut berada di angka 0,344, lebih rendah dibandingkan nasional sebesar 0,368.
Sementara inflasi Sulut pada Triwulan II 2026 tercatat 2,53 persen, lebih rendah dibandingkan nasional sebesar 2,92 persen.
Perkuat Pendidikan hingga Infrastruktur
Gubernur juga memaparkan sejumlah program pembangunan yang terus didorong Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara.
Di sektor pendidikan, pemerintah memperkuat sumber daya manusia melalui kehadiran SMA Taruna Nusantara Langowan serta revitalisasi 50 sekolah.
Di bidang kesehatan, pemerintah mempercepat intervensi gizi terpadu untuk menekan stunting, sekaligus meningkatkan akses rumah sakit rujukan, ketersediaan obat dan pemerataan tenaga medis hingga wilayah pelosok.
Pada sektor ketenagakerjaan, program upskilling melalui Balai Latihan Kerja (BLK) diarahkan untuk meningkatkan daya saing tenaga kerja lokal agar mampu bersaing di tingkat nasional maupun global.
Sementara di bidang lingkungan hidup, Gerakan Indonesia ASRI terus dijalankan sebagai bagian dari komitmen pembangunan berkelanjutan.
Pemerintah juga mendorong pengembangan konektivitas udara internasional melalui penambahan rute penerbangan langsung seperti Manado–Korea dan Manado–China.
Di sektor olahraga dan pariwisata, revitalisasi Kolam Renang Ranowangun dan Pacuan Kuda di Minahasa diarahkan untuk memperkuat sport tourism.
Sektor kebudayaan dan pariwisata juga mendapat perhatian melalui revitalisasi Museum Provinsi, Bukit Kasih dan Sumaru Endo.
Sementara di bidang energi, pemerintah menargetkan hadirnya listrik 1 x 24 jam di pulau-pulau terluar dan wilayah pelosok yang sebelumnya belum terjangkau akses daya.
Untuk memperkuat konektivitas antarwilayah, pemerintah juga membangun sejumlah ruas jalan strategis sepanjang 30 kilometer guna memperlancar rantai pasok dan mobilitas masyarakat.
“Hadirkan Manfaat bagi Masyarakat”
Menutup kuliah umumnya, Yulius kembali mengingatkan para wisudawan agar tidak berhenti pada pencapaian akademik.
Ia mendorong generasi muda BMR menjadi kelompok terdidik yang mampu bekerja, berkarya, berintegritas dan menciptakan peluang.
“Jangan berhenti pada gelar. Jadilah generasi yang bekerja, berkarya, berintegritas, berani menciptakan peluang, dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat,” pesannya.
Yulius mengajak generasi muda bersama-sama mengambil peran dalam pembangunan daerah dan menjadi bagian dari perjalanan Sulawesi Utara menuju provinsi yang maju, sejahtera dan berkelanjutan.
“Mari bersama membangun daerah, menuju Sulawesi Utara maju, sejahtera dan berkelanjutan.”
(*/Red)













