Scroll untuk baca artikel
ManadoPemerintahanSulut

Tahlis Gallang Hadiri Festival Bantik, Semangat Juang Mongisidi Jadi Inspirasi Generasi Muda

1977
×

Tahlis Gallang Hadiri Festival Bantik, Semangat Juang Mongisidi Jadi Inspirasi Generasi Muda

Sebarkan artikel ini

MANADO — Warisan budaya dan semangat kepahlawanan kembali menjadi satu dalam Festival Seni Budaya Bantik yang digelar Jumat (5/9/2026).

Kegiatan yang dihadiri Sekretaris Provinsi Sulawesi Utara Tahlis Gallang mewakili Gubernur Sulut Yulius Selvanus tersebut sekaligus dirangkaikan dengan peringatan 77 tahun gugurnya Pahlawan Nasional Robert Wolter Mongisidi.

Festival ini menjadi momentum bagi masyarakat Bantik untuk memperkuat identitas budaya sekaligus mengenang perjuangan putra terbaik Bantik yang gugur dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Sebanyak 11 Kampung Bantik se-Sulawesi Utara turut ambil bagian. Masing-masing membawa kekayaan adat dan budaya yang menjadi bagian dari warisan leluhur masyarakat Bantik.

Ketua Panitia Pelaksana, Albert Mokodongan, S.E., mengatakan festival tersebut bukan sekadar agenda seni budaya, melainkan bagian dari upaya menjaga kesinambungan sejarah dan nilai perjuangan agar tetap dikenal generasi muda.

“Semangat perjuangan Robert Wolter Mongisidi terus kami kenang sebagai inspirasi untuk mencintai tanah air dan menjaga persatuan,” ujar Albert.

Robert Wolter Mongisidi merupakan tokoh perjuangan asal Bantik yang gugur pada usia 24 tahun setelah dieksekusi oleh pemerintah kolonial Belanda di Makassar pada 5 September 1949.

Keteguhan Mongisidi dalam mempertahankan perjuangan kemerdekaan membuat namanya dikenang sebagai simbol keberanian, kesetiaan dan pengorbanan bagi bangsa Indonesia. Pemerintah kemudian menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional Indonesia.

Dalam sambutannya, Tahlis Gallang memberikan apresiasi kepada panitia dan seluruh masyarakat Bantik yang terus menjaga tradisi sekaligus menghidupkan kembali nilai-nilai sejarah melalui festival.

“Atas nama Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Utara, kami menyampaikan terima kasih kepada panitia dan seluruh jajaran,” kata Tahlis.

Menurutnya, kehadiran 11 Kampung Bantik dengan adat dan budaya masing-masing menunjukkan bahwa kekayaan budaya Bantik masih terpelihara dan memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan.

“Ternyata orang Bantik sudah menyebar dan mendunia, ada di Papua, Australia, Amerika. Ini kesempatan menyaksikan dua momentum yang bernilai manfaat bagi masyarakat dan pemerintah,” ujarnya.

Tahlis menilai pelaksanaan Festival Seni Budaya Bantik sejalan dengan visi dan misi Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara untuk terus mendorong pelestarian seni dan budaya sebagai bagian dari identitas daerah.

Ia berharap nilai-nilai tersebut dapat terus ditanamkan kepada generasi muda, sehingga budaya tidak hanya menjadi simbol masa lalu, tetapi menjadi kekuatan dalam membangun karakter dan persatuan.

Pada momentum peringatan gugurnya Robert Wolter Mongisidi, Tahlis juga mengajak masyarakat untuk menjadikan semangat perjuangan sang pahlawan sebagai teladan dalam kehidupan saat ini.

“Semangat yang ditorehkan putra terbaik, putra Bantik ini kiranya dapat kita tularkan ke generasi yang ada saat ini. Mari kita ambil makna momentum ini, gelora setia hingga akhir dalam keyakinan,” tegasnya.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Manado Richard Sualang menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan festival tersebut.

Ia berharap masyarakat Bantik, khususnya generasi muda, dapat terus bersinergi dengan Pemerintah Kota Manado dalam mendukung berbagai program pembangunan yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Festival tersebut juga menjadi ruang mempertemukan generasi muda dengan sejarah, adat istiadat dan kesenian Bantik. Dengan demikian, warisan leluhur tidak berhenti sebagai catatan masa lalu, tetapi terus hidup melalui keterlibatan generasi penerus.

Turut hadir Letkol Purn. Robby Monginsidi, adik kandung Pahlawan Nasional Robert Wolter Mongisidi, Anggota DPR-RI Martin D. Tumbelaka Kepala BKAD Sulut Clay Dondokambey, Kepala Dinas Sosial Wanda Musu, Kepala Biro Umum Putu Ani, serta jajaran TNI dan Polri.

Melalui festival ini, masyarakat Bantik kembali menegaskan bahwa menjaga kebudayaan sekaligus menghormati jasa pahlawan merupakan bagian dari tanggung jawab generasi masa kini.

Semangat perjuangan Mongisidi pun diharapkan terus menjadi inspirasi untuk menjaga persatuan, mencintai tanah air dan mempertahankan identitas budaya Bantik di tengah perkembangan zaman.

(*/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *