Scroll untuk baca artikel
ManadoPemerintahanSulut

Rona Budaya Sulut 2026 Resmi Dibuka, Yulius Selvanus: Mari Rawat Budaya Kita

1843
×

Rona Budaya Sulut 2026 Resmi Dibuka, Yulius Selvanus: Mari Rawat Budaya Kita

Sebarkan artikel ini

MANADO — Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus, S.E. resmi membuka Rona Budaya Sulawesi Utara 2026 di Museum Negeri Provinsi Sulawesi Utara, Jalan W.R. Supratman Nomor 72, Kelurahan Lawangirung, Kota Manado, Sabtu (5/9/2026).

Festival budaya yang digelar dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun ke-62 Provinsi Sulawesi Utara ini menjadi momentum untuk memperkuat kecintaan masyarakat terhadap warisan budaya sekaligus mengembangkan potensi ekonomi kreatif daerah.

Pembukaan ditandai dengan pemukulan alat musik tradisional Tagonggong. Gubernur Yulius hadir bersama Wakil Gubernur Sulawesi Utara Dr. Johannes Victor Mailangkay, Forkopimda, pejabat Pemprov Sulut, staf ahli gubernur, serta berbagai elemen masyarakat.

Turut hadir Ketua TP-PKK Provinsi Sulawesi Utara Anik Fitri Wandriani, Wali Kota Manado bersama Ketua TP-PKK Manado, tokoh adat, akademisi, komunitas budaya, pelaku ekonomi kreatif, dan perwakilan masyarakat dari berbagai daerah.

Museum Negeri Sulawesi Utara menjadi lokasi utama festival setelah menjalani revitalisasi dan kembali diresmikan pada Mei 2026.

Dalam sambutannya, Yulius mengatakan revitalisasi museum merupakan wujud komitmen pemerintah daerah untuk memajukan kebudayaan sekaligus menyediakan ruang yang layak bagi seniman dan pelaku budaya untuk berekspresi.

Menurutnya, Rona Budaya hadir sebagai ruang pertemuan berbagai kekayaan budaya Sulawesi Utara sekaligus menjawab kerinduan para pegiat seni terhadap tempat untuk menampilkan karya mereka.

Yulius pun mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga dan merawat warisan budaya yang telah diwariskan para leluhur.

“Sudah resmi menjadi warisan budaya tak benda oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Selamat, budaya ini diakui oleh Republik Indonesia dan tentunya dunia,” ujar Yulius.

Ia menilai budaya tidak sekadar menjadi identitas daerah, tetapi juga memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai kekuatan ekonomi kreatif dan pariwisata.

Rona Budaya Sulawesi Utara 2026 mengusung tema “Merayakan Warisan Budaya, Merawat Keberagaman, Menguatkan Identitas.”

Festival berlangsung 5-26 September 2026 dengan tema budaya yang berbeda setiap pekannya.

Pekan pertama, 5-11 September, mengangkat Budaya Nusantara. Kemudian 12-18 September diisi dengan Budaya Minahasa, sedangkan pekan ketiga, 19-26 September, menampilkan Budaya Bolaang Mongondow.

Kepala Dinas Kebudayaan Daerah Provinsi Sulawesi Utara Yorry Rommy Lesawengen mengatakan Rona Budaya tidak hanya menghadirkan pertunjukan seni.

Festival juga diramaikan berbagai kegiatan ekonomi kreatif, seperti pameran kerajinan dan kuliner Dekranasda, pameran UMKM, pementasan teater, hingga pertunjukan band lokal.

“Kami berharap Rona Budaya Sulawesi Utara tahun 2026 dapat menjadi momentum untuk memperkuat kecintaan masyarakat terhadap budaya daerah,” kata Yorry.

Rangkaian kegiatan juga menjadi wadah kolaborasi berbagai elemen masyarakat. Ribuan peserta dari 15 kabupaten/kota di Sulawesi Utara, pelaku ekonomi kreatif, serta sanggar-sanggar binaan Dinas Kebudayaan turut ambil bagian.

Museum Sulut Dilengkapi Fasilitas Digital

Revitalisasi Museum Negeri Sulawesi Utara turut menghadirkan sejumlah fasilitas digital untuk meningkatkan pengalaman pengunjung, khususnya generasi muda.

Fasilitas tersebut antara lain barcode informasi koleksi, ruang digital, dan animasi sejarah yang memungkinkan pengunjung mengenal sejarah serta budaya Sulawesi Utara dengan cara yang lebih interaktif.

Museum ini menyimpan sekitar 3.600 koleksi yang merekam perjalanan sejarah dan kekayaan budaya Sulawesi Utara.

Dengan revitalisasi tersebut, museum diharapkan berkembang bukan hanya sebagai tempat penyimpanan benda bersejarah, tetapi juga menjadi pusat edukasi, kreativitas, dan aktivitas kebudayaan masyarakat.

Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon yang sebelumnya turut meresmikan museum bersama Gubernur Sulawesi Utara juga menekankan pentingnya museum sebagai bagian dari infrastruktur ekonomi budaya.

Museum yang modern diharapkan mampu menjadi contoh bahwa pelestarian warisan budaya dapat berjalan beriringan dengan pengembangan ekonomi kreatif.

Kolintang Jadi Kebanggaan Sulawesi Utara

Gubernur Yulius juga menyoroti potensi budaya Sulawesi Utara di tingkat internasional, salah satunya alat musik kolintang yang telah mendapatkan pengakuan sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO.

Menurut Yulius, pengakuan tersebut merupakan kebanggaan sekaligus peluang untuk memperkuat diplomasi budaya Sulawesi Utara di tingkat global.

Karena itu, ia mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga dan memperkenalkan kekayaan budaya daerah kepada generasi muda maupun masyarakat internasional.

Yulius juga mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan, keamanan, serta keramahan dalam menyambut wisatawan yang berkunjung ke Sulawesi Utara.

Ia berharap penguatan kebudayaan melalui Rona Budaya dapat berjalan beriringan dengan perkembangan pariwisata dan ekonomi kreatif.

“Ini bukan malam tegangan-tegangan, ini panggung gembira. Mari kita rawat budaya kita, kita tampilkan, dan kita teruskan kepada anak cucu,” pungkasnya.

Rona Budaya Sulawesi Utara 2026 diharapkan menjadi momentum untuk menghidupkan kembali ruang-ruang kebudayaan sekaligus memperkuat identitas masyarakat Sulawesi Utara di tengah perkembangan zaman.

(*/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *